KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan
pertolongan-nya,sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah tentang “Sejarah
Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawwuf Dalam Islam”.Shalawat dan salam kami
panjatkan kepangkuan junjungan kita,Nabi Muhammad saw yang menjadi teladan umat
dan menjadi rujukan bagi seluruh pemikiran keislaman,termasuk Tasawwuf.Meski
bisa dikatakan sudah mulai banyak diterima,tetapi tasawwuf masih sering
dipandang secara negative.Pandangan negative itu berkisar pada dua
hal.Pertama,bahwa tasawwuf tidak islami.Sehingga,seiring dengan mulai maraknya
minat masyarakat terhadap buku-buku tasawwuf,muncul juga buku yang menganggap
tasawwuf itu bid’ah dan sejenisnya.Misalnya,buku Musthafa Muhammad Syak’ah
berjudul “Islam Tidak Bermadzhab” (terjemahan) yang mengecam tasawwuf habis-habisan.Menurutnya,tasawwuf
harus dijauhi dan dibuang jauh-jauh dari kehidupan umat islam.Kedua,tasawwuf
hanya mengedepankan aspek batin,tidak peduli denagn aspek lahir.Ia menjadi
biang kemandegan dan kemunduran umat Islam ingin maju,maka tasawwuf harus
dijauhi.Memang ada benarnya ,bahwa tasawwuf tidak islami dan hanya
mengedapankan aspek batin.Tetapi kedua hal ini bukanlah ciri tasawwuf yang
sebenarnya,melainkan tasawwuf yang mengalami penyimpangan.Tasawwuf ekstrem ini
memiliki sejumlah cirri,antara lain menarik diri dari kehidupan
dunia(pasivisme),anti intelektual,dan lebih mengedepankan aspek-aspek
supranatural.
Pangkal
penyimpangan terjadi ketika orang-orang yang bertasawwuf telah meninggalkan
varian keagamaan lainnya,yaitu fiqih.Sehingga tidak sedikit sufi yang karena
alasan telah sampai kepada Allah swt.Tidak mau menjalankan ibadah-ibadah
formal(taklif),bahkan tidak jarang menerjang larangan-larangan agama.Jika
demikian ini yang mempengaruhi perkembangan tasawwuf dari dulu hingga
sekarang,maka penyelesainnya adalah pada usaha untuk saling mendekatkan antara
perkembangan fiqih dan taswwuf.jadi tasawwuf sejati berdiri diatas koridor
fiqih.Ia tidak bisa berdiri sendiri.Sebab,salah satu usaha tasawwuf adalah
meningkatkan penghayatan di dalam menjalankan ibadah-ibadah formal itu.Untuk
itu dengan adanya perkembangan tasawwuf dalam islam sendiri telah meluas hingga
aliran-aliran islam yang ada di dunia.
Tanpa di
sadari perkembangan tasawwuf yang telah di mulai dari jaman nabi sampai dengan
sekarang memunculkan ide-ide untuk saling mengkaitkan suatu ilmu tasawwuf
maupun dengan ajaran-ajaran fiqih yang telah menyebar di kalangan masyarakat
global.Makalah ini masih jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran
dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kebaikan
makalah ini.Semoga dengan selesainya makalah ini dapat memberikan wawasan yang
luas bagi pembaca.Terima kasih
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pertumbuhan
dan perkembangan dunia Tasawwuf pada masa sekarang kurang diperhatikan
masayarakat tentang bagaimana menjalankannya maupun menjaga dengan baik.Banyak
yang mempelajari ilmu tasawwuf tanpa tahu sejarah tentang ilmu tasawwuf
tersebut,maka dari itu perlunya mempelajari sejarah ilmu tasawwuf dalam islam
menjadi sangat penting agar ketika orang-orang belajar tasawwuf tidak
semerta-merta dapat menyelewengkan ajaran-ajaran yang sudah diajarkan pada
zaman nabi sampai sekarang.Tasawwuf bertumpu pada al-Qur’an dan al-Hadist.Dari
berbagai pandangan para ulama tasawwuf tentang asal-usul kata tasawwuf dapat
disimpulkan bahwa pengertian tasawwuf adalah keasadaran murni yang
mengarahkan jiwa secara benar kepada mal shalih dan kegiatan yang
sungguh-sungguh,menjauhkan diri dari keduniaan dalam rangka pendekatan diri
kepada Allah untuk mendapatkan perasaan berhubungan erat dengan-nya.
Orang yang
bertasawwuf adalah orang yang mensucikan dirinya lahir dan batin dalam suatu
pendidikan etika dengan menempuh jalan atas dasar didikan tiga tingkat yang
dalam istilah tasawwuf dikenal dengan takhalli,tahalli,dan tajalli.Tasawwuf
dalam islam,menurut ahli sejarah,sebagai ilmu yang berdiri sendiri lahir
sekitar akhir abad ke-2 atau awal abad ke-3 H.Adapun faktor-faktor yang mendorong
kelahiran tasawwuf dibedakan atas dua,yaitu faktor intern dan ekstern.Dengan
mempelajari asal mula tasawwuf kita dapat mengetahui apa saja yang
dipermasalahkan dalam tasawwuf,kapan bedirinya ilmu tasawwuf,serta apa saja
faktor yang mempengaruhi lahirnya tasawwuf dalam Islam.
B. RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimanakah
Sejarah Munculnya Tasawwuf ?
2.
Bagaimanakah
Sejarah Perkembangan Tasawwuf Dalam Islam ?
3.
Bagaimanakah
pertumbuhan dan Perkembangan Tasawwuf di Era Globalisasi ?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Sejarah Munculnya Tasawuf di
Indonesia
Sebenarnya kehidupan sufi sudah
terdapat pada diri Nabi Muhammad Saw. Di mana dalam sebuah kehidupan beliau
sehari-hari terkesan amat sederhana. Di samping menghabiskan waktunya untuk
beribadah dan selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Bahkan seperti yang
kita ketahui bahwa sebelum beliau di angkat menjadi Rasul Allah, beliau sering
melakukan kegiatan sufi dengan melakukan uzlah di Gua Hiro selama
berbulan-bulan lamanya sampai beliau menerima wahyu pertamanya saat diangkat
menjadi Rasul Allah.
Pada waktu malam beliau sedikit sekali
tidur, waktunya dihabiskan untuk bertawajjuh kepada Allah dengan memperbanyak
dzikir kepada-Nya. Tempat tidur beliau terbuat dari balai kayu biasa dengan
alas tikar dari daun kurma. Beliau lebih suka hidup sederhana dari pada hidup
bermewah-mewahan. Kehidupan Nabi yang seperti itu langsung di tiru oleh
sahabatnya, Tabi’in dan terus turun-temurun hingga sekarang. Bahkan para
sahabat beliau banyak yang melakukan kehidupan sufi dengan hidup sederhana
bahkan serba kekurangan, tetapi dalam hidupnya tumbuh sinar kesemangatan dalam
beribadah.
Rasulullah Saw. Melakukan pendalaman
terhadap aspek spiritual di kalangan umat islam. Sehingga munculah di madinah
dua kelompok yang kemudian hari memiliki pengaruh besar terhadap umat islam.
Pertama, kelompok para qori’ dari kaum Anshor. Mereka bekerja di siang hari dan
beribadah di malam harinya. Mereka bahkan berada di samping tiang-tiang masjid
untuk bertahajud dan membaca Al-Qur’an. Mereka tidak hanyut dalam kemewahan
dunia akibat kemenangan demi kemenangan yang di capai umat islam. Ciri mereka
sangat jelas, sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Mas’ud, yaitu beribadah di
malam hari disaat orang tertidur pulas, berpuasa di siang hari disaat orang
sedang memakan makanan enak, prihatin saat orang bersuka-ria, menangis saat
orang tertawa dan tenang di saat orang riuh dengan urusa-urusan dunia.
Kedua, kelompok yang di kenal dengan
zuhud dan kemudian hari menjadi tempat penisbatan tasawuf, yaitu “ahl
al-suffah”. Latar belakang penyebutan ahl al-suffah untuk mereka adalah bahwa
Rosullullah Saw. membangun tempat (al-suffah) di sekitar masjid Madinah untuk
muslim yang tidak mampu dan muhajirin yang fakir. Beberapa pemuka makkah enggan
berkumpul dengan Rasullullah Saw. karena adanya kefakiran, penampilan dan bau
kelompok ini. Rosul hampir meng iyakan alas an mereka, tetapi kemudian
diingatkan oleh Allah Swt. Sehingga beliau memperlakukannya dengan lebih baik.
Sampai-sampai beliau tidak beranjak ketika mereka duduk di sekeliling beliau
sebelum mereka beranjak. Ketika bersalaman, beliau juga tidak melepaskan tangan
lebih dahulu. Kadang-kadang beliau mengirimkan mereka kepada orang-orang mampu
untuk di beri makan.
Dapat di contoh disini, seperti
kehidupan Abu Hurairah yang dalam sejarah di sebutkan bahwa beliau tidak
mempunyai rumah, hanya tidur di emperan masjidil haram makkah, pakaiannya hanya
satu melekat di badan, makannya tidak pernah merasa kenyang, bahkan sering
tidakk makan. Sampai pada suatu hari beliau duduk-duduk di pinggir jalan sedang
ia sangat lapar. Tatkala Abu Bakar lewat disitu ia bertanya ayat apa yang harus
di bacanya dari Al-Qur’an untuk menahan laparnya. Abu Bakar tidak menjawab dan
berjalan terus. Kemudian lewat pula Umar bin Khatab, Abu Hurairah meminta pula
kepadanya, di tunjukkan ayat Al-Qur’an yang dapat menahan rasa laparnya, Umar
tidak berbuat apa-apa dan melanjutkan perjalanannya. Kemudian lewatlah disitu
Rosullullah Saw., Nabi tersenyum melihat Abu Hurairah karena mengetahui apa
yang terkandung dalam diri dan tersirat di mukanya, Nabi mengajak Abu Hurairah
mengikutinya. Tatkala sampai di rumah, Nabi mengeluarkan sebuah bejana susu dan
disuruh meminumnya Abu Hurairah, sampai kenyang sehingga tidak dapat
mengabiskannya.
Satu contoh lagi adalah yang terjadi
pada sahabat nabi yang bernama Abu Darda’. Suatu hari Aalman Al-Farisi
mengunjungi rumah Abu Darda’, yang telah dipersaudarakan Rosullullah dengan
dia. Maka didapatinya dia sedang murung tak gembira seperti biasanya. Tatkala
ditanya, istrinya menceritakan bahwa Abu Darda’ sejak ingin meninggalkan
kesenangan dunia ini, ia ingin meninggalkan makan minum, karena di anggap akan
mengganggu ibadah dan takwanya kepada Allah. Mendengar cerita itu Salman
Al-Farisi murka, lalu sambil menyajikan makanan ke Abu Darda’ ia berkata dengan
geramnya: “Aku perintahkan kepadamu supaya kamu makan. Sekarang juga!” Abu
Darda’ lalu makan. Tatkala waktu tidur Salman memberi perintah lagi: “Aku
perintahkan kepadamu supaya kamu pergi beristiahat dengan istrimu!” Dan
kemudian tatala waktu shalat ia membangunkan saudaranya itu sambil berkata:
“Hai Abu Darda’ bangunlah sekarang engkau dari tidurmu dan shalatlah engkau untuk
mengagungkan Tuhan!. Kemudian Salman menjelaskan. Ia berkata “Kuperingatkan
kepadamu, bahwa beribadah kepada Tuhanmu itu adalah sebuah kewajiban, merawat
dirimupun adalah suatu kewajiban, melayani keluargamu itupun merupakan suatu
kewajiban bagimu. Penuhilah segala kewajiban itu menurut haknya masing-masing”.
Tatkala keesokan harinya, kelakuan dan
tindakan Abu Darda’ di laporkan Salman kepada Rosullullah Saw. Nabi bersabda
“Benar sungguh apa yang dikatakan Salman”.
Begitulah kehidupan sufi yang terjadi
pada diri Rosullullah Saw., dan para sahabatnya, dan diikuti pula oleh para
Tabi’in, Tabi’in Tabi’in sampai turun temurun pada generasi selanjutnya hingga
sekarang. Sedang di antara sahabat nabi yang mempraktikkan ibadah dalam bentuk
tarekat ini adalah Hudzaifah Al-Yamani. Dan perkembangan sufi ini di lanjutkan
oleh para generasi dari kalangan Tabi’in, diantaranya adalah Imam Hasan
Al-Basyari, seorang ulama’ besar Tabi’in murid Hudzaifah Al-Yamani. Beliau
inilah yang mendirikan pengajian tasawuf di basrah. Di antara murid-muridnya
adalah Malik bin Dinar, Tsabit Al-Banay, Ayub AS saktiyany, dan Muhammad bin
Wasi’.
Setelah beririnya madrasah tasawuf di
Basrah, disusul pula dengan berdirinya madrasah di tempat lain, seperti di irak
yang dipimpin oleh Said bin Musayyab dan di Khurasan dipimpin oleh Ibrahim bin
Adam.dengan berdirinya madrasah-madrasah ini, menambah jelas kedudukan dan
kepentingan tasawuf dalam masyarakat islam yang sangat memerlukannya. Sejak
itulah pelajaran ilmu tasawuf telah mendapatkan kedudukan yang tetap dan tidak
akan terlepas dari masyarakat islam sepanjang masa.
Pada abad-abad berikutnya ilmu tasawuf
semakin berkembang seiring dengan perkembangan agama Islam di berbagai belahan
bumi. Bahkan menurut sejarah, perkembangan agama Islam di Afrika, ke segenep
pelosok Asia ini, Asia kecil, Asia Timur, Asia Tengah, sampai negra-negara yang
berada di tepi lautan Hindia hingga ke negri kita Indonesia, semmuanya di bawa
oleh Da’i-da’i Islam dan kaum Sufi. Sifat-sifat dan cara hidup mereka yang
sederhana, kata-kata mereka yang mudah di pahami, kelakuannya yang sangat tekun
dalam beribadah, semua itu lebih menarik daripada ribuan kata-kata yang hanya
teori adanya.
Para penyebar agama Islam pada umumnya
terdiri dari kalangan ulama’ sufi, maka dengan sendirinya ajaran yang di
bawanya dipengaruhi oleh ilmu tasawuf. Dengan demikian, para Da’i Islam
tersebut juga secara langsung mengembangkan ajaran tarekatnya di berbagai
daerah yang menjadi sasaran dakwahnya. Pada akhirnya ajaran tasawuf tersebar berkembang
dengan cepat sejalan dengan perkembangan ajaran islam itu sendiri.
2.
Sejarah Perkembangan Tasawuf
Berbagai pendapat tentang
berkembangnya tasawuf:
a.
Pada abad pertama dan kedua
Hijriyah.
1. Perkembangan
Tasawuf pada Masa Sahabat
Para sahabat
juga mencontohi kehidupan Rosullulah yang serba sederhana, dimana hidupnya
hanya semata-mata diabdikan kepada Tuhan-Nya. Beberapa sahabat yang tergolong
Sufi di abad pertama, dan berfungsi maha guru bagi pendatang dari luar kota
Madinah, yang tertarik pada kehidupan sufi antara lain:
a.
Abu Bakar
Ash-Shiddiq
b.
Umar bin
Khattab
c.
Usman bin
Affan
d.
Ali bin Abi
Thalib
e.
Salman
Al-Farisi
f.
Abu Zar
Al-Ghifary
g.
Ammar bin
Yasir
h.
Hudzoifah bin
Al-Yaman
i.
Niqdad bin
Aswad
2. Perkembangan
Tasawuf Pada Masa Tabi’in
Ulama’ sufi
dari kalangan Tabi’in, adalah murid dari ulama-ulama sufi dari kalangan
sahabat. Ada beberapa tokoh dari kalangan sufi Tabi’in, antara lain:
a.
Al-Hasan
Al-Bashri hidup tahun 22 H-110 H
b.
Rabi’ah
Al-Adawiyah wafat tahun 105 H
c.
Sufyan bin
Said Ats-Tsaury hidup tahun 97 H-161 H
d.
Daun Ath-Thaiy
wafat tahun 165 H
e.
Syaqieq
Al-Balkhiy wafat tahun 194 H
b.
Pada Abad Ketiga dan Keempat
Hijriyah
1.Perkembangan
tasawuf pada abad ketiga hijriyah
Pada abad ini,
terlihat perkembangan tasawuf yang pesat di tandai dengan adanya segolongan
ahli tasawuf yang mencoba memiliki inti ajaran tasawuf yang berkembang masa
itu.
2.Perkembangan
tasawuf pada abad keempat hijriyah
Pada abad ini,
ditandai dengan kemajuan ilmu tasawuf yang lebih pesat di bandingkan dengan
kemajuan di abad ketiga hijriyah karena usaha maksimal ulama tasawuf untuk
mengembangkan ajaran tasawuf masing-masing. Upaya untuk mengembangkan ajaran
tasawuf di luar kota Baghdad.
c.
Pada Abad Kelima Hijriyah
Disamping
adanya pertentangan yang turun temukan antara ulama sufi dengan ulama fiqh,
maka abad kelima ini, keadaan semakin rawan ketika berkembangnya madzhab Syiah
Islamiyah yaitu suatu madzhab (paham) yang hendak mengembalikan kekuasaan pemerintah
pada keturunan Ali bin Abi Thalib
d.
Abad Keenam, Ketujuh, dan Kedelapan
Hijriyah
Perkembangan
tasawuf pada abad keenam hijriyah banyak ulama tasawuf yang sangat berpengaruh
pada perkembangan tasawuf abad ini antara lain Syihabuddin Abul Futu As-Suhrawardy
wafat tahun 587 H/1191 M. ia mula-mula belajar ilmu filsafat dan Ushul fiqh
pada Asy-Syekh Al-Imam Majdudin Al-Jily di Allepo, bahkan sebagian besar ulama
dari berbagai disiplin ilmu agama di negri itu, telah dikunjunginya untuk
menimba ilmu pengetahuan dari mereka.
e.
Pada Abad Kesembilan,
Kesepuluh Hijriyah, dan Sesudahnya
Disini tasawuf sangat sunyi di dunia Islam,
berarti nasibnya lebih buruk lagi dari keadaannya pada abad keenam, tujuh dan
kedelapan hijriyah. Faktor yang menonjol menyebabkan runtuhnya ajaran tasawuf
di dunia Islam yaitu:
1. Karena memang
ahli tasawuf sudah kehilangan kepercayaan di kalangan masyarakat Islam, sebab
banyak diantara mereka yang terlalu menyimpang di ajaran islam yang sebenarnya.
2. Karena ketika
itu, penjajah bangsa Eropa yang beragama nasrani sudah menguasai seluruh negri
Islam. Tentu paham-paham selalu dibawa dan digunakan untuk menghancurkan ajaran
tasawuf yang sangat bertentangan dengan pahamnya.
4.
Tasawuf di Era Globalisasi
Islam memiliki system keagamaan yang
lengkap dan utuh, ketika masih tersimpan ke dalam Kitab Suci dan Hadits. Di
hadapan Allah tidak ada perbedaan derajat di antara sesama manusia, kecuali
dengan takwanya. Tetapi dalam kenyataannya, telah muncul kasta baru di tengah
gebyar lahiriyah dan kesemarakan formalitas agama, yang terdiri atas da’i,
artis, birokrat, selebritis, dan konglongmerat. Berbeda halnya dengan pandangan
mata batin para penempuh kesufian. Islam tidak membutuhkan kesufian, jika
mengacu pada ayat terahir yang di turunkan Allah, tentang sempurnanya ajaran
Islam dan tentang telah di ridhoi-Nya Islam sebagai agama yang benar.
Zaman globalisasi yang berarti
penggundulan bumi dari biota rohani, ternyata tidak mematikan spiritual agama.
Sebab bagian-bagian yang kosong dan meranggas dari nilai-nilai batin mulai di
aliri kesejukan sufisme. Kerinduan kepada tasawuf kian menggelora bagaikan
kerinduan padang pasir menunggu siraman hujan. Sungguh ngeri untuk
membayangkan, betapa umat akan terjerumus ke dalam ketidakpercayaan dan
keputusan andai kata tasawuf di salah gunakan demi kepentingan pribadi para
guru, mursyid atau syeikh. Padahal tasawuf di anggap sebagai ladang harapan
untuk memunculkan bibit-bibit tanaman iman yang hampir layu dari wabah
materialisme dan hedonisme.
Dalam Khasanah Islam, formula yang di
sediakan adalah tasawuf, dengan tarekat dan dzikir sebagai konsep ideomatik
ajarannya. Sufisme adalah mediator
rohani dalam upaya menyalin hubungan yang tulus dengan Ilahi atau faktor
keseimbangan untuk menyeimbangkan keberagamaan yang lahiriah dan batiniah.
Melalui tasawuf, yang merupakan mata air rohani dalam mengisi ke hampaan jiwa
manusia dengan akar-akar ketuhanan. Di harapkan kepatuhan umat untuk
melaksanakan aturan syariat akan sejalan dengan kegairahan mengamalkan tarekat,
sehingga penghayatan agama pada tingkat hakekat dan makrifat tidak tergelincir
ke jurang syirik dan kufarat.
Tasawuf
Pragmatis dan Terapi Jiwa
Makna dan pengertian dari “dimensi
pragmatis” dalam konteks, secara umum bersifat praktis dan berguna untuk umum.
Pragmatisme adalah sebuah corak berfikir dalam filsafat yang mengaitkan ide
dengan hasil guna. Ide di ukur dengan nilai praktisnya. Sementara itu tasawuf
di pihak lain, adalah penghayatan keagamaan yang mengandalkan keimanan yang
utuh terhadap yang maha mutlak dan absolut. Secara ideologis, antara sufisme
dan pragmatosme terdapat jurang yang terlalu luas untuk di jembatani, tapi ini
tidak lantas berarti bahwa dalam tasawuf tertutup kemungkinan bagi adanya
dimensi pragmatis. Justru wacana pemikiran sufisme terbukti mampu mengembangkan
nilai-nilai pragmatis yang lebih bermakna.
Diagnosis
Spiritualis
Berdasarkan visi monorealistik, yakni
bahwa realitas satu-satunya adalah Tuhan, maka wujud manusia terdapat potensi
potensi yang sesungguhnya merupakan perwujudan dari alam ketuhanan. Salah satu
sifat, yang secara teologis sangat mendasar pada Dzat Tuhan. Dengan adanya
kehidupan manusia memiliki kemampuan bertindak, mengetahui, berkehendak, dan
seterusnya.
Dalam anatomi sufistik adalah bahwa
Tuhan membuka pintu komunikasi dengan manusia. Iman pada dasarnya tidak lebih
dari sekedar memperdalam rasa ketergantungan terhadap itu, sesuatu yang di
butuhkan dalam rangka kontrol jiwa. Kecenderungan jiwa yang tidak terkontrol mengakibatkan
akal tidak berfungsi dengan baik. Akibatnya, seseorang mengalami
penyakit-penyakit kejiwaan yang akan menjadi tekanan berat bagi tubuh. Dalam
Al-Qur’an Tuhan memberikan isyarat bahwa setiap kali terjalin komunikasi
dengan-Nya seseorang akan memperoleh energi spiritual yang menciptakan
getaran-getaran psikolog pada seluruh jiwa raga.
Konsep Fana’
dan Terapi Sufistik
Fana’ merupakan salah satu
perikeadaan spiritual yang perlu di teliti dari sudut psikologis. Karena selain
berupa pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan tatanan moral, fana’
melibatkan unsur-unsur emosional yang terkait langsung dengan tuhan.
Pengembangan disiplin keilmuan konsepsi fana’ menjembatani bahwa pol-pola
wawasan kesehatan jiwa berikut segenap orientasinya: simtomasis, penyesuaian
diri, pengembangan, potensi, dan penghayatan spiritual seluruhnya menjadi
bagian dari konsepsi fana’.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dengan
demikian dapat di simpulkan bahwa Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawwuf
Dalam Islam dimulai pada akhir abad ke-2
atau ada yang mengatakan pada awal abad ke-3 Hijriyah pada Zaman Nabi.Secara
garis besar,perkembangan tasawwuf di dunia Islam ini sangat dipengaruhi oleh
perkembangan ilmu pengetahuan dan keadaan sosial politik umat Islam saat itu.
Sejarah munculnya tasawuf terdiri
dari beberapa fase yaitu:
1. Pada abad pertama dan kedua hijriyah
2. Pada abad ketiga dan keempat hijriyah
3. Pada abad kelima hijriyah
4. Abad keenam, ketujuh, dan kedelapan
hijriyah dan yang ke
5. Pada abad ke Sembilan, sepuluh dan
sesudahnya
Tasawuf tidak
hanya bersumber dari islam saja, namun juga di pengaruhi oleh ajaran luar islam
yaitu: unsur nasrani, unsur hindu-budha, unsur yunani, dan juga unsur Persia
dan arab.Sebenarnya Tidak perlu ada pertentangan antara ajaran tasawwuf yang
tidak sepenuhnya ada dalam ajaran syariat Islam.Hal yang penting adalah bagaimana
kita bisa selalu berupaya untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan
menjadikan syariat Islam sebagai pedoman untuk mencapai hakikat.
B.
KRITIK DAN
SARAN
Demikian
Makalah Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawwuf Dalam IslamYang kami
susun.Kami menyadari masih terdapat banyak kesalahan dalam Makalah yang kami
susun.Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif demi
terciptanya kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca
maupun penyusun.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,
Hawasli. Perkembngan Ilmu Tasawwuf dan Tokohnya. Al-ikhlas.
Abdullah,
Taufiq dkk. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam. Jakarta. Pt Ichtiar Baru
Van Hoeve,2002.
Bagir, Haidar.
2002. Manusia Modern Mendamba Allah Renungan Tasawwuf
Positif.ciputat: Mizan Media Utama
R.A.
Nicholson, al-shufiyyah Fi-al Islam.Kairo,1951.
Nasution,
Ahmad Bangun, Haji. Akhlak Tasawwuf : Pengenalan,Pemahaman,dan
Pengaplikasiannya (disertai biografi Tokoh-tokoh sufi)
Ahmad Bangun Nasution, Hj.Royani
Hanum Siregar.Jakarta: Rajawali Pers,2003.
Related Posts
Subscribe Our Newsletter
0 Response to "MAKALAH SEJARAH MUNCUL DAN BERKEMBANGNYA TASAWUF DI INDONESIA"
Post a Comment